Tampilkan postingan dengan label Cerita Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Februari 2011

Jangan Halangi Aku Membela Rasulullah

Jangan Halangi Aku Membela Rasulullah

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said
tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh
bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara
musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan
masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut
dibangunkannya. "Suamiku tersayang," Nasibah berkata, "aku mendengar suara
aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang."

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan
ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan
mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah
menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

"Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang...."

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu,
tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap
dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju
utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang
berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum
kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru
berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya
dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara
kuda yang nampaknya sangat gugup.

"Ibu, salam dari Rasulullah," berkata si penunggang kuda, "Suami Ibu, Said
baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid..."

Nasibah tertunduk sebentar, "*Inna lillah*....." gumamnya, "Suamiku telah
menang perang. Terima kasih, ya Allah."

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar.
Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, "Amar, kaulihat Ibu
menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih
karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi.
Maukah engkau melihat ibumu bahagia?"

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

"Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi
hingga kaum kafir terbasmi."

Mata amar bersinar-sinar. "Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak
dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku
untuk membela agama Allah."

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya
mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya.
Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. "Ya Rasulullah, aku Amar bin
Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur."

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. "Engkau adalah pemuda Islam yang
sejati, Amar. Allah memberkatimu...."

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai
sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan
mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu
sedang termangu-mangu menunggu berita, "Ada kabar apakah gerangan kiranya?"
serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, "apakah
anakku gugur?"

Utusan itu menunduk sedih, "Betul...."

"*Inna lillah*...." Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

"Kau berduka, ya Ummu Amar?"

Nasibah menggeleng kecil. "Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi
yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak."

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela,
"Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa
Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani."

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. "Kau tidak takut, nak?"

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum
terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya,
Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda
berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir.
Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap
di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, "Allahu akbar!"

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita
kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. "Hai utusan," ujarnya,
"Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa
diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang."

Sang utusan mengerutkan keningnya. "Tapi engkau perempuan, ya Ibu...."

Nasibah tersinggung, "Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah
perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?"

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja
menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah
mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata
dengan senyum. "Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan
mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan
rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur."

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas
obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia
sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka,
tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara
Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya
Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh,
Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani.
Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai
singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya.
Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir
mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh
terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga
Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas'ud mengendari kudanya,
mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu
melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya.
Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas'ud mengenalinya,
"Istri Said-kah engkau?"

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, "bagaimana
dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?"

"Beliau tidak kurang suatu apapun..."

"Engkau Ibnu Mas'ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku...."

"Engkau masih luka parah, Nasibah...."

"Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?"

Terpaksa Ibnu Mas'ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah,
Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak
musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung,
akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke
atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang
benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para
sahabatnya, "Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah
bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun
menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa."

Kamis, 06 Januari 2011

pahala membantu tetangga dan anak yatim

Pahala Membantu Tetangga dan Anak Yatim





Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, tertidur di Masjidil Haram. Dia telah bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit lalu yang satu berkata kepada yang lain, "Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?"
Jawab yang lain, "Enam ratus ribu." Lalu ia bertanya lagi, "Berapa banyak yang diterima ?" Jawabnya, "Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq."

Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq itu sehingga ia sampailah ke rumahnya. Dan ketika diketuknya pintunya, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya namanya. Jawab orang itu, "Muwaffaq." Lalu Abdullah bin Mubarak bertanya padanya, "Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai darjat yang sedemikian itu?" Jawab Muwaffaq, "Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak dapat kerana keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat wang tiga ratus diirham dari pekerjaanku membuat dan menampal sepatu, lalu aku berniat haji pada tahun ini sedang isteriku pula hamil, maka suatu hari dia tercium bau makanan dari rumah jiranku dan ingin makanan itu, maka aku pergi ke rumah jiranku dan menyampaikan tujuan sebenarku kepada wanita jiranku itu.

Jawab jiranku, "Aku terpaksa membuka rahsiaku, sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tanpa makanan, kerana itu aku keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba bertemulah aku dengan bangkai himar di suatu tempat, lalu aku potong sebahagiannya dan bawa pulang untuk masak, maka makanan ini halal bagi kami dan haram untuk makanan kamu." Ketika aku mendegar jawapan itu, aku segera kembali ke rumah dan mengambil wang tiga ratus dirham dan keserahkan kepada jiranku tadi seraya menyuruhnya membelanjakan wang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam jagaannya itu. "Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku." Kata Muwaffaq lagi.
Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahawa membantu jiran tetangga yang dalam kelaparan amat besar pahalanya apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim. Rasulullah s.a.w. ada ditanya, "Ya Rasullah tunjukkan padaku amal perbuatan yang bila kuamalkan akan masuk syurga." Jawab Rasulullah s.a.w., "Jadilah kamu orang yang baik." Orang itu bertanya lagi, "Ya Rasulullah, bagaimanakah akan aku ketahui bahawa aku telah berbuat baik?" Jawab Rasulullah s.a.w., "Tanyakan pada tetanggamu, maka bila mereka berkata engkau baik maka engkau benar-benar baik dan bila mereka berkata engkau jahat, maka engkau sebenarnya jahat."

Nabi sulaiman AS dan seekor semut 2

Nabi Sulaiman AS dan Seekor Semut 2






Suatu hari Baginda Sulaiman AS sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma.

Baginda Sulaiman AS terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya, “Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?”.

Si semut menjawab, “Ini adalah kurma yang Allah SWT berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun”.

Baginda Sulaiman AS kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, “Wahai semut kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu”. Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman AS.

Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman AS datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman AS bertanya kepada si semut, “Hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu/”

“Wahai Nabiullah, aku selama ini hanya menghisap airnya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah SWT yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi karena engkau bukan Allah Pemberi Rizki (Ar-Rozak), jawab si semut

nabi sulaiman AS dan seekor semut 1

Nabi Sulaiman AS dan Seekor Semut 1




Kerajaan Nabi Sulaiman AS dikala itu sedang mengalami musim kering yang begitu panjang. Lama sudah hujan tidak turun membasahi bumi. Kekeringan melanda di mana-mana. Baginda Sulaiman AS mulai didatangi oleh ummatnya untuk dimintai pertolongan dan memintanya memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun dan sungai-sungai mereka.

Baginda Sulaiman AS kemudian memerintahkan satu rombongan besar pengikutnya yang terdiri dari bangsa jin dan manusia berkumpul di lapangan untuk berdo'a memohon kepada Allah SWT agar musim kering segera berakhir dan hujan segera turun.

Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman AS melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah batu. Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda Sulaiman AS kemudian mendengar sang semut mulai berdo'a memohon kepada Allah SWT penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Allah pemilik segala khazanah, aku berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu, tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. Ya Allah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air-Mu, kabulkanlah permohonanku", do'a sang semut kepada Allah SWT.

Mendengar do'a si semut maka Baginda Sulaiman AS kemudian segera memerintahkan rombongannya untuk kembali pulang ke kerajaan sambil berkata pada mereka, "Kita segera pulang, sebentar lagi Allah SWT akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Allah SWT telah mengabulkan permohonan seekor semut". Kemudian Baginda Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan

jin dan setan.. apa bedanya sih ???

Jin dan Setan, bedanya apa sih?



Kemarin kita sudah membahas tentang jin. Nah mungkin kalian bertanya, apa bedanya jin dengan setan?
Baiklah! Kali ini Adzkia akan menjelaskan perbedaan antara jin dengan setan. Tidak sulit kok. Simak ya..!
Allah menjelaskah dalam Al-Qur`an, jin itu ada yang kafir dan ada yang muslim. Jin muslim beribadah kepada Allah seperti kita. Mereka tidak menganggu manusia. Sedangkan jin yang kafir gemar menggoda manusia. Mereka mengajak manusia untuk berbuat jahat. Nah jin macam inilah yang disebut setan. Jadi setan adalah golongan jin yang durhaka dan suka menggoda manusia untuk berbuat dosa, mengajak manusia meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allah.
Ada juga setan dari golongan manusia, yaitu manusia yang durhaka dan mengajak orang lain agar durhaka seperti dirinya. Karenanya, dalam surat An-Naas, kita disuruh untuk berdoa, berlindung dari godaan setan jin dan setan manusia. Allah berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ {1} مَلِكِ النَّاسِ {2} إِلَهِ النَّاسِ {3} مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ {4} الَّذِي يُوَسْوِسُ فيِ صُدُورِ النَّاسِ {5} مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ {6

Katakanlah:”Aku berlindung kepada Rabb manusia”. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia (QS. 114:1-6)
Apa beda setan dengan iblis?
Iblis adalah nama jin yang menggoda Nabi Adam agar memakan buah dari pohon terlarang. Akibatnya Nabi Adam dan Hawa diusir dari “jannah” tempat mereka tinggal. Iblis melakukannya karena dendam terhadap Nabi Adam.
Mengapa Iblis merasa dendam?
Setelah Allah menciptakan Nabi Adam, Allah memerintahkan para malaikat dan Iblis agar sujud memberi hormat kepada Nabi Adam. Tapi Iblis menolak karena merasa lebih baik dari Adam. Ia diciptakan dari api sedang Adam hanya dari tanah. Karena ulahnya ini, Iblis dilaknat dan dimurkai oleh Allah.
Sejak itu, Iblis sangat benci kepada Adam. Dia berniat menyesatkan Adam dan keturunannya. Sampai sekarang, Iblis menjadi pemimpin para setan dalam menyesatkan manusia. Berbeda dengan setan atau jin lain, Iblis ini tidak akan mati sampai hari kiamat kelak. Tapi setan atau jin yang lain bisa mati.
Jadi, iblis adalah pimpinan setan. Dialah yang memberi komando kepada setan-setan agar menggoda manusia dan menyesatkannya. Iblis dan setan telah diancam Allah dengan neraka. Kelak, mereka akan masuk neraka dan kekal di sana selama-lamanya. Karenanya, mereka tidak senang jika ada jin atau manusia yang masuk surga dan bahagia. Mereka ingin agar semua manusia juga merasakan penderitaan seperti mereka.
Kesimpulannya, jin adalah jenis makhluk ciptaan Allah, jin yang durhaka namanya setan, dan pemimpinya namanya “Iblis”.
Diciptakan dari api, kok disiksa dengan api?
Teman-teman, mungkin kalian bertanya, jin kan diciptakan dari api, kok dia disiksa dengan api? Memangnya setan akan tersiksa?
Begini, dahulu ada seorang ulama yang bernama Abu Hanifah ditanya seperti itu. Seseorang bertanya, “Wahai Abu Hanifah, bukankah setan itu diciptakan dari api? Apakah ia akan merasa tersiksa jika disiksa di neraka dengan api?”
Abu Hanifah tidak menjawab, beliau mengambil segumpal tanah kering yang sudah mengeras lalu dilemparkan kepada si penanya. Si penanya menjerit kesakitan dan marah, “Apa yang anda lakukan?”
Abu Hanifah bertanya, “Sakitkah rasanya?”
Si penanya menjawab, “Tentu saja!”
Abu Hanifah berkata, “Manusia diciptakan dari tanah, tapi meski demikian, ia masih kesakitan dilempar dengan tanah.”
Jadi, setan tetap akan tersiksa dengan api neraka karena api neraka itu beda. Api neraka sangat panas dan memang diciptakan untuk menghukum manusia atau jin yang durhakan kepada Allah. Karenanya, meski diciptakan dari api, mereka juga akan tersiksa dengan panasnya api neraka.

Rabu, 05 Januari 2011

pembuat kendi dan pengrajin emas

Pembuat Kendi dan Pengrajin Emas






Bertahun-tahun yang lampau di salah sebuah kota , tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak mengindahkan kejujuran. Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya. Si perajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu menyintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar. Karena itu timbul rasa dengki si pengrajin emas terhadap pembuat kendi. Pada salah satu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia menunjuk si pembuat kendi dan berbohong dengan mengatakan: Saya melihat pencuri masuk ke rumah lelaki ini. Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, ia menyeret paksa pembuat kendi ke penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri. Pembuat kendi bersumpah bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. Tapi ada daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri tersebut tertangkap dan sekaligus membuktikan bahwa pembuat kendi tidak bersalah. Diapun dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.
Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, dia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.
Dengki dan hasad sedemikian membakar jiwa dan hatinya sehingga dia mengambil keputusan yang berbahaya. Dia menyediakan racun dan memperalat seorang anak muda bodoh untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya seratus keping emas. Hari yang ditetapkan pun tiba. Perajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya pembuat kendi kelihatan sehat dan segar bugar seperti biasa.
Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera dia mencari anak muda itu dan menyelidiki apa yang terjadi. Sadarlah dia bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu tidak diracun, tetapi anak muda tersebut malah lari dari kota membawa seratus keping emas pemberiaannya. Ketika perajin emas ini mendengar berita itu, dia merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian. Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya meninggalkannya.
Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah perajin emas.
Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata: Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku. Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu. Pembuat kendi melanjutkan: Aku mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena sudah tentu nyawa aku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku.
Kata-kata pembuat kendi menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabat ku, ketahuilah bahawa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik. Tahukah engkau apakah rahasia kebaikanku di tengah masyarakat? Untuk mengetahui rahasia ini, aku ingin menyajikan sebuah kisah untuk mu. Pengrajin emas memasang telinganya untuk mendengar kisah tersebut dan dalam keadaan tersenyum yang tersungging di bibirnya, dengan penuh perhatian dia mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pembuat kendi. Si pembuat kendi berkata; Pada suatu hari Imam Sajad as, berkata kepada salah seorang sahabatnya bernama Zuhri yang begitu sedih memikirkan segala yang muncul dari sifat hasad pada dirinya. Beliau berkata: “Wahai Zuhri, apakah salahnya jika engkau menganggap orang lain sama seperti saudara dan keluargamu sendiri, orang yang tua sebagai bapakmu, anak-anak sebagai anakmu dan orang yang sebayamu seperti saudaramu sendiri. Ketika dalam keadaan begini, bagaimana mungkin engkau berbuat zalim kepada orang lain? Janganlah engkau lupa pada hal ini bahwa orang lebih menyayangi siapa yang berbuat baik kepada orang lain. Jika metode yang begini engku teruskan dalam hidupmu, dunia akan menjadi tempat yang membahagiakanmu dan engkau akan mempunyai banyak kawan.
Kata-kata pembuat kendi itu sampai disini. Pengrajin emas berpikir jauh dan lahirlah rasa penyesalan di wajahnya. Dengan suara yang bergetar, dia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu. Kepada Tuhan dia berjanji bahwa selepas ini dia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain.

pemuda beribu_bapakkan hewan babi


Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah.Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.
Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di syurga nanti yang akan berjiran dengan aku?".
Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawapan, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat berkenaan.
Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.
Tuan rumah itu tidak melayan Nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa hal ini?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh kehairanan.
Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar semula ke dalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya dihantar semula ke bilik.
Selesai kerjanya barulah dia melayani Nabi Musa. "Wahai saudara! Apa agama kamu?". "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu iaitu agama Islam. "Habis, mengapa kamu membela babi? Kita tidak boleh berbuat begitu." Kata Nabi Musa.
"Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibubapa kandungku. Oleh kerana mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang hodohrupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajipanku sebagai anak. Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibubapaku sepertimana yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.", sambungnya.
"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenar, tetapi Allah masih belum memakbulkan lagi.", tambah pemuda itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. 'Wahai Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di Syurga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepasa kedua ibubapanya. Ibubapanya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami."
Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh kerana dia telah berada di maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua ibubapanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam syurga."
Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa ibubapa yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke syurga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibubapanya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan ibubapa kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.
Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibubapa kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.
Walau banyak mana sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibubapa kita diampuni Allah S.W.T.
Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibubapanya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibubapa di alam kubur.
Arti sayang seorang anak kepada ibu dan bapanya bukan melalui hantaran wang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibubapanya ialah dengan doanya supaya kedua ibubapanya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.

Selasa, 04 Januari 2011

Mukjizat Nabi dalam Kurma dan Roti

Kaum muslimin berhasil mengalahkan kaum musyrikin Makkah dalam perang Badar dan Uhud. Namun orang-orang musyrik itu tak jua menyerah. Orang-orang Quraisy lalu bersekutu dengan orang-orang Gathafan yang juga memusuh Islam. Jumlah pasukan mereka mencapai 10.000 orang. Persekutuan semacam ini baru pertama terjadi di Jazirah Arab, karena kabilah-kabilah di  Arab saling bermusuhan. Mereka mau bersatu demi menghadapi Islam dan Rasulullah.
Berita bersatunya kedua kabilah itu segera sampai ke Madinah. Kaum muslimin pun bersiap menghadapi pasukan musuh yang lebih kuat. Jumlah kaum muslimin di Madinah hanya sekitar 3.000 orang. Sedangkan musuh mencapai 10.000 orang.
Karena kekuatannya tak berimbang, Rasulullah memutuskan bertahan di dalam kota Madinah. Untuk bertahan, Rasulullah memerintahkan membuat parit panjang di luar kota. Panjangnya kira-kira 5.500 m, lebar 4,5 meter, dan dalamnya 3 meter. Tujuannya agar pasukan musuh tidak bisa memasuki kota. Cara ini tidak dikenal orang Arab sebelumnya.
Penggalian parit dikerjakan oleh orang laki-laki Madinah. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok beranggota sepuluh orang. Rata-rata tiap kelompok menggali parit sepanjang 25 meter.
Rasulullah juga ikut menggali parit. Beliau mencangkul dan mengangkut tanah ke atas. Pekerjaan itu benar-benar berat. Apalagi saat itu musim dingin dan makanan sangat sedikit. Mereka menggali dalam keadaan lapar. Hingga ada sahabat yang tidak makan selama tiga hari. Rasulullah sendiri mangganjalkan dua buah batu ke perut lalu mengikatnya untuk menahan lapar. Meskipun demikian mereka tetap bersemangat. Karena parit tersebut harus selesai digali sebelum pasukan musyrikin tiba.
Dalam peristiwa ini, banyak mukjizat yang terjadi. Salah satunya adalah kisah kurma yang penuh berkah. Adalah seorang anak bernama Nu’man bin Basyir. Ia diperintah ibunya membawa beberapa butir kurma untuk bekal makan siang ayah dan pamannya. Di jalan, ia bertemu dengn Rasulullah, dan ditanya tentang apa yang dibawanya. Anak kecil itu menjawab, ia membawa butir kurma untuk makan siang ayah dan pamannya.
Rasulullah meminta kurma itu dan diletakkannya di atas sehelai kain. Beliau lalu berdoa. Setelah itu, dipanggulnya para penggali untuk makan. Mereka pun datang mengambil kurma yang ada di atas kain itu dan makan sampai kenyang. Atas izin Allah, kurma itu tetap tersedia di atas kain hingga semua orang makan sampai kenyang.
Ada lagi mukjizat lainnya. Jabir bin Abdullah menceritakan, suatu ketika para sahabat mendapatkan tanah yang sangat keras dan tak mudah dicangkul. Mereka lalu meminta tolong kepada Rasulullah. Sewaktu Rasulullah turun ke dalam parit, Jabir melihat batu yang diganjalkan di perut beliau untuk menahan lapar. Ia lalu minta izin pulang ke rumah untuk mengambil makanan. Ia merasa iba melihat Rasulullah dalam keadaan sangat lapar.
Namun, Jabir tak memiliki cukup makanan. Hanya ada sedikit gandum dan seekor domba kecil. Jabir menyembelih kambing itu dan memanggangnya, sedangkan isterinya membuat roti. Setelah selesai, Jabir pergi menemui Rasulullah.
Isterinya berpesan,  “Masakan kita hanya sedikit. Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah dan para sahabatnya.” Awalnya Jabir hanya ingin mengundang sedikit orang. Karena makanan yang ia siapkan tak begitu banyak. Ia menemui Nabi sambil berbisik, “Wahai Rasulullah, saya sudah menyembelih seekor kambing kecil dan memasak beberapa potong roti. Datanglah bersama beberapa sahabatmu.”
Namun, Rasulullah tak mungkin menikmati makanan, sementara sahabatnya kelaparan. Maka beliau pun berseru, “Wahai para penggali parit, sesungguhnya Jabir sudah menyiapkan hidangan. Kemarilah kalian semua!” Kemudian Rasulullah berkata kepada Jabir, “Jangan turunkan periuk dan adonan kalian sampai aku datang.”
Jabir pulang terlebih dahulu untuk menyiapkan tempat. Setelah Rasulullah datang, Jabir memberikan roti-roti itu kepada beliau. Rasulullah lalu meniup roti-roti itu sambil membacakan doa. Setelah itu, satu per satu para penggali mengambil roti-roti dan potongan daging dalam periuk. Semua kebagian, tak ada yang terlewatkan. Padahal jumlah penggali saat itu mencapai seribu orang. Setelah semua pulang, Jabir melihat makanan yang ia sediakan benar-benar masih utuh seperti semua, tak berkurang sedikit pun.
Itulah mukjizat yang terjadi pada diri Rasulullah sebagai bukti bahwa beliau benar-benar nabi utusan Allah. Lewat mukjizat itu pula Allah menolong kaum muslimin mendapatkan kesulitan. Karena Allah sangat sayang kepada hamba-hambanya.

Aib Yang Terbongkar

         Harta dan jabatan bukan jaminan orang mau menerima islam. Kadang  malah membuat orang menjadi angkuh dan sombong. Seperti yang terjadi pada walid bin mughirah. Siapakah dia? Seperti apa tingkah polahnya? Simak cerita adzkia berikut ini.
Walid bin Mughirah adalah salah satu pemuka masyarakat di Quraisy. Dia termasuk anggota darun nadwah yang disegani. Darun nadwah, nama tempat untuk perkumpulan para tokoh quraisy makkah. Tidak semua orang dapat menjadi anggotanya. Melainkan para ketua suku dan orang-orang kaya terpandang. Bisa dikatakan bahwa darun nadwah adalah perkumpulan elit di Makkah.
Walid bin mughirah yang juga ayah sahabat Khalid bin Walid terkenal dermawan. Dia suka menyumbangkan hartanya untuk kepentingan umum. Dia juga sangat menghormati tamu. Setiap musim haji tiba, Makkah menjadi ramai dikunjungi para peziarah yang menunaikan haji. Penduduk Makkah menyambut mereka dengan hormat. Konon, Walid bin Mughirah menyembelih 10 unta setiap hari untuk disuguhkan kepada para Jemaah haji selama 40 hari.
Tapi, kebaikannya tidak pernah ditujukan untuk Rasulullah dan Islam. Bagi Walid bin Mughirah muhammad adalah musuh menghina berhala lata uzza dan memecah belah kabilah Quraisy. Padahal sebenarnya ia tahu bahwa ajaran Nabi Muhammad benar. Dia juga tahu bahwa Ayat yang sering dibacakan nabi di hadapan orang musryik bukan karangan manusia, melainkan wahyu dari Allah.
Suatu ketika, Rasulullah saw membacakan beberapa ayat untuknya. Rupanya, Walid bin mughirah tersentuh oleh bacaan itu. Pikirannya menjadi jernih sehingga timbul rasa simpati kepada Islam. Tapi, berita ini akhirnya sampai ke telinga Abu Jahal. Ia tidak terima dan langsung melabrak Walid bin Mughirah.
Abu jahal berkata, “Kini anggota sukumu tengah mengumpulkan harta guna disumbangkan kepada paman sudah tua. Paman juga mulai mendekai Ibnu Abi Kabsyah dan Abu Bakar agar diberi makanan” kata Abu Jahal mengejek-ejek Al Walid untuk membangkitkan
jiwa angkuh Al Walid, sebab Abu Jahal kenal betul bahwa Al Walid ini sangat bangga dengan kekayaannya.
Walid bin Mughirah tidak terima dan berkata sambil marah, “Apakah orang quraisy tidak tahu bahwa akulah yang terkaya di antara mereka?”
“Kalu begitu, cobalah terangkan kepada kaum-kaummu itu bahwa engkau membantah dan membenci Muhammad.”
“Apa yang harus aku katakan tentang Muhammad? Tak ada orang yang lebih pandai dari aku tentang syair, nyanyian ataupun mantra jampi-jampi.”
Abu Jahal mengatakan, “Kaummu tidak akan senang, kalau engkau tidak ejekan tentang Muhammad.”
“Kalau begitu biarlah aku pikirkan sebentar” Walid lalu mengatakan, “Yang dikatakan Muhammad adalah sihir yang mempengaruhi orang.”
Walid benar-benar keterlaluan menghina rasulullah dan ayat al-quran. Dia menyamakan ayat al-quran seperti mantera sihir yang diucapkan oleh para dukun. Karena itu Allah membalasnya dengan celaan yang mengungkap aibnya di mata manusia. Pada surat al-qalam: 10-13, dibeberkan sifat buruk al walid bin mughirah. Yaitu, orang yang mengumbar janji, manusia hina, tukang olok-olok, menyebarkan adu domba, orang yang menghalangi kebaikan, melampau batas, banyak berdosa dan anak zina. Tidak ada orang yang dihina sebanyak itu dalam al quran selain Walid bin Mughirah.
Pasca ayat tersebut turun, dia datangi ibunya sambil marah-marah. Ia mengatakan, “Muhammad menyebut 9 sifat buruk, semua nyata karena aku tahu ada padaku kecuali sifat terakhir. Dia yang menyebutku sebagai anak hasil zina. Jika ibu tidak jujur padaku, aku penggal kepalamu?”
Ibunya lalu membenarkan bahwa sebenarnya Walid bin Mughirah adalah nak zina karena ayahnya mandul dan tidab bisa memiliki keturunan. Karena ibunya takut dicerai dan tidak diurus, ibunya berzina dengan seorang pengembala kambing. “Karena itu, kamu adalah anak pengembala ternak.” Kata ibu kandung Walid bin Mughirah.
Seperti itulah balasan Allah bagi orang yang suka menghina Nabi dan ayatnya. Balasan yang diterima orang jahat selalu sesuai dengan kejahatannya. karena itu, terbongkrlah aib yang membuat walid bin mughirah merasa malu di kalangan orang quraish. Meskipun demikian, ia tidak mau bertobat dan semakin bertambang kufur kepada Allah.